Petualangan Baru Bersama New Bro

Petualangan Baru Gue Bersama New Bro

Jadi beberapa ratus hari yang lalu, anak gue lahir. Kok bisa? Ya karena istri gue hamil beberapa ratus hari sebelumnya, ehehe.

Alhamdulillah si bayi lahir dalam kondisi sehat dan sempurna. Jenis kelaminnya laki-laki dan karena itu disematkan lah nama yang sama seperti gue dan bapak gue di dalamnya. Tiga generasi, satu nama.

Proses lahirannya sendiri terpaksa gagal normal karena si bayi enggak mau nongol juga ke muka bumi ini. Dokter memutuskan untuk sesar. Seperti yang gue duga, kebanyakan orang yang denger bayi lahir sesar pasti bilang, “Ah itu akal-akalan rumah sakit aja supaya bayar lebih.” Tapi, gue enggak peduli, yang penting anak lahir sehat dan istri selamat.

Pikiran pertama pas gue liat si mungil adalah bingung. “Oh ini anak gue? Wah, gue sekarang punya anak. Hmm, ya ya ya.”

Setelah dicek bareng-bareng sama dokter, mulai dari tangan (lengkap), kaki (lengkap), sampai ‘burung’-nya (lengkap dan aman), gue langsung lantunkan azan ke telinganya. Abis itu, pulang deh setelah boleh pulang.

Welcome Home

Tiga bulan pertama, istri gue masih cuti jadi dia bisa seharian sama bayi. Gue juga bisa 24 jam sama New Bro karena WFH. Btw, gue kadang suka nyebut anak gue ini New Bro karena sebenarnya bayi baru lahir kan disebut newborn, tapi, istri gue tuh suka beribet ngomong bahasa inggris. Jadi kadang dia bilang newbron, newbon, hahaha. Jadi lah New Bro aja biar gampang, hahaha!

Setelah tiga bulan, istri gue back to office. New Bro dijaga sama gue selama istri kerja dari sekitar jam 9 pagi sampai jam 7 malem. Gue udah lumayan lihai momong bayi karena latihan selama istri masih cuti. Jadi gue enggak kagok lagi gendong, mandiin, ngasih susu, ganti popok, dll.

Tapi, kesulitan di awal-awal ngasuh tuh adalah gue suka enggak paham bahwa New Bro adalah bayi. Mereka lahir dalam kondisi enggak tahu dan enggak bisa apa-apa. Cara komunikasi mereka ya cuma nangis. Saat New Bro nangis enggak jelas, ya kadang gue kepancing emosi. Setelah belajar sana-sini, (dan thanks to AI yang sering gue tanyain soal perbayian), gue semakin jago jagain bayi.

Gue juga belajar soal bayi dari buku ini, highly recommended.

Peak Hour Menyerang

Nah, tapi kalo dibilang all is well ya enggak juga. As you know, gue kan WFH, gue kerja sebenernya dari pagi hari. Tapi, jam-jam krusial (peak hour) gue tuh mulai jam 3 sore. Sulitnya minta ampun buat kerja pas bayi tuh lagi bangun dan nangis jam segitu. Itu yang bikin gue kadang suka kesel. Biasanya tidur, tapi enggak tidur.

Apa yang gue pikirin kan wah ini ganggu kerja nih, masa pas rapat via Zoom ada suara bayi nangis. Apa kata bos? Tapi, alhamdulillah seisi kantor maklum.

Ke sininya gue lumayan tenang walau bayi rewel. Tapi, seiring bayi semakin gede, tantangan baru lagi. Wah itu beneran gue enggak bisa kerja. Apalagi pas udah bisa jalan, itu keliaran ke mana-mana, pegang sana-sini, masukin apa aja ke mulut. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!!!

Kerjaannya explore terus, apa aja pingin dipegang.

Kesimpulan

At the end, itu lah rasanya ngasuh bayi sambil WFH. Apa yang spesial buat gue adalah, gue ini bukan ibu, tapi ayah yang biasanya streotipenya cuma kerja aja cari duit. Tapi sekarang peran gue ganda dan gue seneng banyak pelajaran baru setiap harinya.

Ada aja kelakuan bocil.

Well, this is it, petualangan baru membesarkan anak. Sampai sini dulu pendahuluannya, next bakal ada banyak cerita soal si kecil di mari.

Gagal 7 Hari dan Resolusi 2026

Rencana posting 7 hari berturut-turut ternyata cuma bisa nyampe hari ke-5. Ternyata susah juga beruntun walau targetnya cuma 7 hari. Kebetulan juga enggak ada ide buat hari keenam dan ada sesuatu yang enggak bisa dicuekin.

Target yang Manusiawi

Tapi ya sudahlah, namanya juga cita-cita, kadang sulit banget kecapai karena setinggi langit. Sekarang gue mau coba lagi, cuma agak beda aja nih. Kemarin target beruntun tiap hari, sekarang seenggaknya seminggu bisa minimal dua kali posting. Gue rasa itu target realistis.

Apa yang Enggak Bisa Dicuekin?

Anyway, soal sesuatu yang enggak bisa dicuekin tuh berhubungan sama apa yang terjadi sama tahun lalu. Salah satunya udah pernah gue bilang di postingan Tahun Baru, yaitu soal anak. Ada lagi, yaitu soal rumah.

Photo nya Scott Webb on Unsplash

Singkat cerita soal anak, jadi beberapa bulan lalu anak gue lahir dan seperti yang bisa ditebak, gue kelabakan ngurusnya karena sembari kerja, hahaha. Hidup gue makin warna-warni aja semenjak ada tuh bayi. Tapi, overall, seru.

Tentang rumah, nah akhirnya gue memutuskan untuk punya tempat tinggal permanen. Enggak ngekos lagi, enggak ngontrak lagi. Setelah hunting sana-sini, akhirnya ketemu rumah yang insya Allah jadi tempat yang aman dan nyaman buat gue sekeluarga.

Nanti, soal drama ngurus anak dan perjuangan nyari rumah nih akan gue ceritain secara terpisah.

Well, segini dulu pemanasan untuk bisa aktif ngeblog lagi. Kita jumpa lagi besok-besok yes.